728x90-ads
Nov 19, 2016
531 Views
0 3

Rencana Penutupan Layanan CDMA, Publik Berhak Menuntut?

Written by
300x250-ads

Ruangpublik.com – Terlalu mudahnya publik dirugikan di Indonesia, salah satunya dengan rencana penutupan layanan CDMA. Layanan ini pada masanya menjadi komoditi yang selalu di”bombardir”kan kepada publik oleh sejumlah perusahaan operator telekomunikasi di Indonesia, seperti PT. TELKOM lewat produk unggulannya Telkom Flexi.

Kita tengok sejenak sejarah CDMA. Dunia harus berterima kasih kepada Claude Shannon (1916 – 2001), seorang ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology yang berjasa menyumbangkan ide dasar CDMA berupa teknik penyebaran spektrum (spread spectrum). Awalnya CDMA digunakan oleh kalangan militer karena kebal terhadap gangguan (anti jamming) dan bebas penyadapan (anti-intercept).

Pada saat itu, operator berbasis CDMA di Indonesia ada lima, yaitu Telkom (Flexi), Indosat (StarOne), Bakrie Telecom (Esia), Mobile-8 (Fren), dan MSI/Mandara Seluler Indonesia (Neo_n). Berbekal Keputusan Menteri Perhubungan/ KM No. 35 Tahun 2004 maka Telkom, Indosat, dan Bakrie Telecom menggunakan teknologi CDMA ini sebagai solusi telepon tetap tanpa kabel (fixed wireless access/FWA) dengan mobilitas terbatas sebagai pengganti jaringan telepon tetap berbasis kabel tembaga (fixed wireline). Mobile-8 dan MSI lebih memilih menjadi operator seluler seperti operator GSM. Dalam perkembangannya masyarakat ternyata tetap memandang FWA tak ubahnya sebagai telepon seluler sehingga kompetisi telekomunikasi nirkabel di Indonesia semakin ketat.

Tampaknya operator CDMA di Indonesia masih menggunakan jurus yang dipakai oleh operator GSM dengan memberikan porsi layanan suara lebih banyak daripada layanan content atau data. Memang hingga kini layanan suara masih mendominasi dan menjadi penyumbang utama pendapatan operator telekomunikasi. Tapi, jika operator CDMA dan content provider jeli, aplikasi-aplikasi multimedia berbasis CDMA bisa menjadi produk yang digandrungi konsumen (killer application) yang akan menjadi mesin uang bagi operator CDMA. Layanan content CDMA di Indonesia cenderung meniru apa yang telah dilakukan operator GSM sehingga kurang menarik konsumen telekomunikasi.

Seiring dengan meningkatnya demand internet di Indonesia, operator CDMA perlu segera mengantisipasinya dengan mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki teknologi ini. CDMA sejatinya lebih unggul daripada sistem seluler lain dikarenakan kemampuannya mengakomodasi layanan komunikasi data berkecepatan tinggi. Potensi pasar mobile data yang belum banyak tergarap bisa menjadi sumber revenue baru sehingga operator CDMA tak perlu menutup layanannya.

Pemanfaatan teknologi CDMA di Indonesia juga terkendala dengan keterbatasan handset/ponsel dan gadget (piranti) komunikasi data yang benar-benar berstandar CDMA2000-1x pada waktu itu. Ponsel CDMA yang tersedia di pasaran kebanyakan masih menggunakan teknologi IS-95 yang merupakan generasi awal CDMA. Kemampuan ponsel jenis ini masih sebatas untuk “ngomong” dan belum bisa digunakan untuk melakukan komunikasi data berkecepatan tinggi. Harga ponsel CDMA2000 “yang beneran” memang masih mahal dan belum banyak masuk pasaran Indonesia. Kalaupun ada juga tak akan bisa digunakan secara optimal karena tidak semua operator CDMA mempunyai produk berbasis multimedia, misalnya layanan video streaming.

Keunggulan CDMA ini memberikan banyak sumbangan kepada peningkatan produktivitas bangsa Indonesia. Tidak ada satu orang pun yang tidak ingin berusaha. Salah satu modalnya adalah komunikasi. Pengadaan fasilitas komunikasi bisnis menjadi lebih mudah dan lebih cepat dengan adanya layanan CDMA ini.  Layanan ini cocok dan menjadi solusi alternatif layanan telepon kabel yang sering bermasalah. Belum lagi sulitnya waktu itu mengajukan sambungan nomer telepon kabel yang baru ke Telkom dengan alasan “masih penuh”. Semestinya Pemerintah sebagai regulator dan pengawas tidak hanya mengikuti kemauan produsen dan operator. Tetapi lebih mempertimbangkan kepentingan bangsa kita sendiri.

Kita akan selalu setengah-setengah dalam mengadopsi teknologi baru. Seperti contoh CDMA ini, belumlah sampai ke pelosok negeri layanan ini sudah akan diganti / ditutup. Implementasi teknologi di Indonesia ini berbeda dengan negara lain yang telah matang infrastrukturnya dengan daerah cakupan yang tidak seluas wilayah Indonesia.

Gonta-ganti teknologi yang tidak diatur akselerasinya ini sangat berdampak kepada produktivitas bangsa Indonesia. Semua ini menjadi tanggung jawab Pemerintah yang semestinya mempunyai roadmap yang jelas dengan pertimbangan geografis, keamanan dan sosial budaya bangsa.

Sudah seharusnyakah publik menuntut ganti rugi kepada operator dan pemerintah? Jangan hanya dipandang berapa nilai handset, tetapi berapakah potensi nilai komunikasi yang akan terputus jika layanan ini ditutup? Mengingat nomer CDMA “katanya” tidak akan bisa digunakan lagi.

Article Categories:
Pelayanan Umum
728x90-ads2

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Menu Title